Sharing Agar Toddler Anteng Selama Berjalan Kaki

Malaika anak kami saat ini telah memasuki umur 1,5 tahun. Sudah terbayang bagaimana ia sedang aktif-aktifnya. Dengan rasa ingin tahu yang saat besar. Tidak jarang membuat Ayah dan Bubu nya kadang kewalahan melihat tingkahnya. Kadang senang menumpahkan air. Sedang senang mengatakan “Noooo..” saat diperintahkan melakukan sesuatu, seperti “Ayo Malaika ganti popoknya..” dan ia dengan cepat berkataa “Noooo..”, “Ayuk Nak sudah penuh itu nappy nyaa..”, dengan cepat ia jawab “Nooo..”. Fiuh. Baiklah. *urut dada *baca istighfar.

Kalau tidak banyak stok sabar, mungkin akan dengan mudah kita sebagai orangtua untuk marah kepada anak, berteriak, mencubit, dan lain-lainya. Semoga saja kita sebagai orangtua terhindar dari hal tersebut. Karena pada akhirnya, setelah memarahi anak/mencubit hanya penyesalan yang datang. Dan si anak, mungkin akan memaafkan, tapi bisa jadi “kenangan buruk” yang kita tinggalkan untuknya itu akan ia ingat sampai dewasa kelak. Dan bisa saja hal tersebut membuat ia mengulangi hal yang sama kepada anaknya kelak.

Namun sebagai orangtua mungkin kita harus bisa melihat situasi dan kondisi. Ada saatnya kita membiarkan anak untuk mengeksplor sesuatu sehingga tidak menghambat pertumbuhan, ada saatnya kita harus tegas dalam mengambil sikap untuk berkata Tidak Boleh! terhadap anak.

Mungkin kalau bisa dikategorikan saya termasuk Ibu yang membebaskan Malaika untuk eksplor segala sesuatunya selagi itu tidak berbahaya. Contoh dulu saat ia masih penasaran “bagaimana sih rasanya duduk dikursi?” lalu ia mulailah berusaha untuk memanjat ke atas kursi, saya masih membiarkan (tentu sembari diperhatikan), bahkan kadang saya beri disekitar kursi tersebut bantal untuk tindakan priventif sampai akirnya sekarang ia termasuk anak yang sepertinya sudah mahir dalam kegiatan olah fisik hehe, sudah bisa naik seluncuran sendiri tanpa ada rasa takut. Contoh lainya semenjak ia mulai bisa merangkak, saya biarkan ia berusaha untuk merangkak naik ke atas tangga (note:tangga rumah kami berkarpet), tentu dengan saya berada selalu di sekitarnya. Alhasil ia sudah bisa naik dan turun tangga sendiri.

Memang pertumbuhan setiap anak berbeda-beda dan sepertinya Malaika termasuk yang pertumbuhan fisiknya diberi Allah lumayan cepat karena umur 10 bulan sudah bisa berjalan. Tapi maksudnya di sini adalah bagaimana kita sebagai orangtua untuk dapat melihat potensi tersebut. Untuk tidak mudah takut ini dan itu sehingga malah menghambat pertumbuhan anak. Semoga saja tidak.

Boundaries

Kadang mungkin kita pernah melihat seorang atau dua orang anak tengah berlari-larian di ruang tamu saat orangtua si anak tengah ke datangan tamu ke rumahnya. Atau di sebuah restaurant beberapa orang anak dibiarkan berkejar-kejaran dengan teman atau saudaranya lalu naik dari satu kursi ke kursi lainya. Ya namanya juga anak-anak, pasti kita berpikiran seperti itu. Tapi mungkin ada hal yang harus diluruskan disini. Bagaimana kita sebagai orangtua untuk dapat bersikap tegas terhadap anak kita yang seperti kasus di atas tampaknya sudah kelewat batas.

Seperti yang saya katakan di atas bahwa saya sebenarnya termasuk orangtua yang lebih “luwes” namun berbeda dengan suami saya. Saat Malaika sepertinya sudah “kelewat batas”, seperti bersuara terlalu gaduh di dalam bus, maka ia akan langsung memberi teguran kepada anaknya. Maka mungkin di sini saya bilang bahwa itu adalah boundaries.

Salah satu buku parenting yang saya baca si penulis mengumpamakan toddler dengan seseorang yang baru belajar mengemudikan mobil dan yang mengajari orang tersebut dimisalkan sebagai orangtua. Si pengemudi yang baru belajar ini dapat mengendarai mobil dengan baik dan terhindar dari “kecelakaan” apabila ia berusaha untuk mengikuti rambu-rambu yang telah diberi tahu oleh sang pelatih. Walau pada akhirnya “style” atau cara dari mengemudikan mobil tersebut akan berbeda pada setiap orang. Di sinilah peran kita sebagai orangtua sebagai pelatih/pemberi semangat/pendidik atau apapun itu namanya bertugas memberi “rambu-rambu” kepada sang anak. Ya harus dimulai dari usia ia sedini mungkin agar akan teringat dan diimplementasikan sampai ia dewasa nanti. Tidak bisa sekali dua kali bahkan puluhan kali diingatkan masih saja kadang anak lupa atau sengaja lupa. Dan begitulah yang selalu berusaha diingatkan oleh suami kepada saya agar anak selalu diberi batasan.

Menurut para pakar psikolog keluarga, orang yang paling tepat untuk memberi arahan/masukan/nasehat adalah ternyata sang Ayah. Malah bukan Ibu ya? Sebagai contohnya saja, bila kita kembali ingat masa kecil, kalau Ibu yang marah rasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak berhasil “hinggap” di otak kita. Ternyata kenapa? bahwa Ibu apabila memberi nasihat terkadang suka kepanjangan, suka kemana-mana topiknya, kurang tepat sasaran, dan suka berbelit-belit. Bagaimana toddler/balita kita bisa mengerti kalau yang digunakan bahasanya terlalu sulit atau kurang simple/hemat dalam penggunaan kalimatnya. Beda dengan kaum bapak-bapak. Menurut pakar parenting tersebut kaum lelaki lebih hemat dalam penggunaan kalimat sehingga akan lebih mudah dipahami oleh anak kita.

Sharing Agar Toddler Anteng Selama Berjalan Kaki.

Ingin sekedar sharing kepada Ayah dan bunda mengenai bagaimana mengatasi agar anak “anteng” selama berjalan kaki. Beberapa hari yang lalu sahabat saya bertanya, “Malaika kalau di jalan, saat tidak duduk di stroller, biasanya dia bagaimana? bisa disuruh tenang tidak berlarian-larian?”. Bagaimana mungkin bisa? apalagi kalau si anak baru bisa berjalan, keinginanya untuk eksplor berlari kesana kemari akan lebih besar.

Nah kembali kepada topik boundaries di atas tadi. Bahwa ternyata bisa loh membuat anak anteng saat berjalan kaki asal kita memberi batasan/boundary kepadanya. Cara ini saya juga baca di salah satu buku parenting.

Karena saat ini kami tengah tinggal di Inggris dan lebih banyak berjalan kaki atau menggunakan kendaraan umum ditambah kemana-mana kami harus membawa Malaika (18 bulan) yang sedang aktif-aktifnya, maka kadang ia akan merasa cepat bosan untuk terlalu lama duduk di stroller-nya. Kadang kami pergi ke City Center dari rumah kami di Hallifax juga dengan berjalan kaki mungkin total bisa sekitar 1 jam, alhasil dipertengahan jalan ia lebih sering minta turun malah kadang menangih-nangis karena bosan duduk terlalu lama. Alhamdulillah menemukan bacaan yang bagus tentang hal tersebut.

Sederhana ternyata. Pilihan yang kita tawarkan kepada anak saat ia memang ingin turun dari stroller atau tidak mau anteng: “Malaika mau duduk di stroller atau pegang (bagian samping) stroller nya?” “Malaika mau duduk di stroller atau (berjalan kaki sembari) pegang tangan Ibu/Ayah?”. Terus terusan kami katakan kepada Malaika. Beruntungnya kami lama kelamaan entah bagaimana, setiap turun dari stroller ia pasti selalu berpegang pada bagian samping stroller nya tersebut atau kadang tangan kanan pegang (samping) stroller, tangan kiri memegang tangan ayah atau ibunya.

Kalau awal-awal latihan “pegang (samping) stroller atau duduk” dulu ia lebih banyak menangis karena setiap ia berusaha lari tidak tentu arah langsung saya gendong dan saya dudukan ke stroller. Mungkin lama kelamaan ia jadi tahu boundary nya 😉

Akhir kata selamat mencoba ibu-ibu, semoga bermanfaat. Beberapa waktu lalu kami sempat Euro Trip. Sebagai wisatawan pasti membuat kami banyak diperjalanan. Alhamdulillah si kecil Malaika walaupun di sana tetap mengerti, “kalau berjalan kaki artinya pegang (samping) stroller.” Terus patuh kepada Ayah Ibuk ya Nak, tantrum nya sekali-kali aja.. hehe..

IMG_6799
My loves^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s