Ada Apa Dengan Ibu Rumah Tangga?

Ibu rumah tangga. Sebuah tittle yang dianggap ‘gampang’ oleh sebagian orang. Padahal kalau mau dilihat lebih dalam bagaimana ‘pekerjaan’ menjadi seorang ibu rumah tangga tidak gampang. Tidak hanya berbicara mengenai membersihkan rumah, memasak, menjemur pakaian, menyapu  halaman, namun juga ‘memelihara anak’. Ya kalau sudah menyangkut mengenai ‘anak’ sudah panjang ceritanya.

Pertama dan paling utama sekali, anak adalah titipan dari Sang Maha Kuasa yang harus dipelihara dengan sepenuh jiwa dan raga. Kalau seorang ibu atau ayah tidak ‘serius’ membuat haluan atau rancangan pola asuh anak dalam mendidik, membesarkan, memelihara, tidak bisa terbayangkan bagaimana anak tersebut besarnya kelak. Padahal kita mempunyai tanggung jawab yang besar kepada Sang Pencipta untuk merawat si buah hati yang telah dipilihnya untuk dititipkan kepada kita. Namun sayangnya kita anggap sepele tugas tersebut dengan acuh tak acuh saja terhadap dunia anak tersebut.

Anak yang tidak dirawat dengan ‘baik dan benar’, seperti tidak diberikan hak-haknya.. misalkan bayi tidak diberikan hak ASI nya, tidak adanya bonding antara kedua orangtua nya dengan si anak (anak diasuh oleh orang lain), tidak adanya rasa kasih sayang orangtua, waktu orangtua yang hanya habis dengan ‘dunia’nya saja, baik itu dunia kerja atau dunia orang dewasa lainya.. Jangan heran nanti besarnya anak akan berada diluar kendali orangtua tersebut. Belajar mengenai parenting tidak sehari dua hari selesai begitu saja namun masih banyak tahapanya karena anak tumbuh dan berkembang terus sesuai usianya.. masing-masing tahapanya pun ada cara-cara tersendiri bagaimana pola asuh kita terhadap mereka, salah sedikit saja bisa meninggalkan trauma terhadap si anak.

Memang tugas sebagai orangtua bukanlah pekerjaan yang main-main. Masing-masing ayah dan ibu mempunya tugasnya yang harus ia jalankan dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Tidak hanya berbicara mengenai kemampuan calistung (baca tulis hitung) nya yang hebat saja atau kemampuan-kemampuan kognitif nya yang hebat saja, namun aspek rohani, mental, sosialisasi, akhlak nya dan masih banyak lagi musti kita didik sedari kini, kita bantu dengan stimulasi dan memberikan contoh-contoh teladan yang baik untuk mereka.

Jadi yang sebenarnya adalah pekerjaan seorang ibu itu tidak melulu mengenai dapur saja. Seorang Ibu juga harus pintar dalam segala hal. Sampai kepada hal makanan saja sang Ibu harus pintar dalam menyajikan makanan yang bergizi untuk anak-anak juga suaminya. Dari makanan yang bergizi itu jugalah semua bermula. Karena mereka membutuhkan energy dari makanan untuk beraktifitas sehari-hari. Mungkin kalau si Ibu tidak pintar dalam memberi menu makanan yang bergizi ya bisa saja anak jadi mudah sakit. Misal dengan gampang memberikan makanan yang manis-manis padahal sudah tahu anak bisa rentan sakit giginya bila terlalu sering mengkonsumsi makanan yang manis-manis, atau si anak jadi mudah batuk dan flu bila terlalu sering jajan es krim.

Itu baru dari segi makanan, bagaimana dari segi agama, moral dan lainya? wah wah, diakhirat nanti mungkin akan terlalu banyak hal-hal yang akan kita pertanggung jawabkan kepada Allah terhadap anak kita Titipan Nya tersebut.

Jadi sebenarnya peran Ibu sekalipun mempunyai andil yang cukup besar. Jam kerja dari peran seorang Ibu tersebut bisa kita kalikan sendiri 7 hari dalam seminggu dikali 24 jam. Bukan pekerjaan yang sepele. Jadi kalau masih ada yang menyepelekan pekerjaan seorang Ibu mungkin kita bisa jawab dan katakan bahwa kita ingin investasi waktu bersama dengan anak karena Anak adalah titipanya Allah, sangat lebih penting masa depan anak daripada seonggok uang, karena bagaimanapun juga anak yang kurang PERHATIAN dan KASIH SAYANG orangtuanya cenderung menjadi anak yang tidak sehat, Ya tidak sehat jasmani dan rohani nya, sungguh malang.

Mulai sekarang hayuk sama-sama untuk tidak dengan gampangnya menyepelekan tugas sebagai seorang Ibu ataupun seorang Ayah. Terlebih Ibu Rumah Tangga yang hidupnya ia dedikasikan untuk kepentingan anak-anak dan suaminya. Tolong jangan anggap sebelah mata atau kita abaikan tugas kita sebagai orangtua. Karena pada akhirnya anak adalah investasi kita diakhirat. Hanya doa dari anak yang sholeh, ya anak kita itu,  yang bisa meredakan api neraka yang menyala-nyala. Bagaimana bisa ‘menghasilkan’ anak yang sholeh kalau ayah dan ibu nya sibuk dan abai.

Ada sebuah penelitian yang dapat kita ambil hikmahnya bahwa menurut pakar psikologi bagian parenting Ibu Elly Risman, anak laki-laki yang kurang perhatian keluarganya (terlebih ayahnya) anak cenderung nakal, agresif, terjerumus narkoba dan seks bebas. Dan dampak buruk bagi anak perempuan yang kurang figur ayahnya maka ia akan depresi lalu terjerumus pada seks bebas. Ini merupakan penelitian ilmiah berdasarkan fakta-fakta yang telah ada. Mari selamatkan anak-anak kita sang penerus bangsa dengan ‘hadir’ sebagai ibu dan ayanya.

 

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s