Berburu Kelas Gratisan!

Alhamdulillah sebulan belakangan ini diberi izin oleh suami untuk mengikuti kegiatan free English course di University of York. Sebuah pengalaman yang menarik serta Insya Allah membawa banyak manfaat bagi saya yang sekarang ini sedang menetap di Inggris.

Jadi flashback saat sebulan awal kami baru sampai di York. Mungkin waktu itu bisa dikatakan saya mengalami culture shock. Apa-apa mengandalkan suami. Sampai-sampai untuk berbicara kepada supir bus untuk membeli tiket saja saya tidak berani, pasti bersembunyi di belakang badan suami saya karena takut salah ngomong. Pokoknya takut gak jelas gitu. Padahal mereka sangat memaklumi pendatang yang belum terlalu fasih berbicara bahasa Inggris.

Singkat cerita, setelah berdiskusi dengan suami untuk meningkatkan kemampuan Bahasa, akhirnya saya diizinkan untuk mengikuti course singkat selama sebulan. Dengan konsekuensi kami harus bergantian menjaga bayi mungil kami Malaika (yang sekarang sudah tidak mungil lagi). Dengan mengandalkan browsing di internet pada awalnya saya berhasil mendapatkan info bahwa di St. John University ada program free course English. Waktu itu course baru berjalan dua minggu namun total kedatangan saya hanya lima kali.

Penyebabnya adalah karena ini untuk pertama kalinya Malaika ditinggal berdua saja dengan Ayahnya, ditambah untuk mencapai St. John University ini memerlukan waktu sekitar 40menit (menggunakan bus+jalan kaki). Ditambah sistem masuk kelasnya hanya 16 orang tercepat yang datang yang bisa mengikuti pelajaran hari itu, maklum kelas gratis dan peminatnya sangat banyak. Jadilah saya harus berangkat 1,5 jam sebelum pelajaran dimulai agar nantinya saya bisa mendapatkan seat dan Ya, saya selalu menjadi orang yang pertama kali datang (saking semangat dan juga atas saran suami).

Namun jadinya Malaika ditinggal terlalu lama skitar 4.5 jam, sedangkan Malaika masih membutuhkan ASI. Dan ia lebih suka minum ASI langsung daripada minum menggunakan botol ataupun minum menggunakan sendok. Ini juga karena saya dari awal tidak setiap hari mengajarkan Malaika minum ASIP (Air Susu Ibu Perah). Selain itu karena Malaika sudah Mpasi saya pun meninggalkan makanan Malaika di rumah kalau-kalau ia lapar selama saya berpergian. Waktu itu umur Malaika sekitar 7 bulan. Inilah alasan mengapa saya PeDe meninggalkan Malaika berdua saja dengan Ayahnya. Saya pikir dengan stok ASIP dan makanan Mpasi cukup untuk membuat Malaika tenang. Ternyata saya salah.

Setelah lewat dua minggu masa course berlangsung (waktu itu jadwal course sebulan penuh), saya dapat info dari teman kalau di York Campus juga akan buka free course English selama sebulan penuh. Langsung tanpa berpikir panjang saya pindah haluan dan registrasi via internet untuk dapat mengikuti kelas tersebut. Alasan mengapa saya pindah haluan karena jarak antara rumah kami dengan kampus hanya 10 menit ditempuh dengan jalan kaki. Ditambah jadwal course yang hanya dua jam, total paling hanya 2,5 jam saya meninggalkan Malaika di rumah dengan Ayahnya.

Beruntung memiliki suami yang men-support istri untuk selalu belajar. Ditambah saya pun bisa bersosialisasi dengan teman-teman dari berbagai negara. Karena semenjak Malaika lahir saya lebih banyak di rumah dan bisa dikatakan kalau ngobrol hanya dengan suami dan Malaika saja, maklum ibu baru yang punya anak bayi jadi agak sulit untuk kemana-mana. Selain saya bisa berinteraksi dengan orang banyak, dapat pengalaman baru, dampak positifnya pun dirasakan oleh Ayah dan Malaika.

Bonding Time.

Selama saya pergi ke kampus itu, walau hanya 2,5 jam, dijadikan moment “Ayah-Anak” atau istilahnya bonding time untuk Malaika dan Ayahnya. Waktu yang singkat tapi dapat membuat kedekatan Ayah dan Anak lebih intens. Jadi Malaika tidak hanya merasakan kedekatan dengan Ibuknya namun juga dengan Ayahnya. Dan Ayah pun belajar untuk meng-handle Malaika tanpa mengandalkan saya. Mungkin yang biasanya Malaika menangis, suami langsung berikan Malaika kepada Ibuknya, sekarang ia harus dan Alhamdulillah sudah bisa mengatasi kalau Malaika rewel karena “ingin sesuatu”.

Dan juga bonding time ini membuat suami saya pun paham bagaimana perasaan menjadi seorang Ibu yang bisa dikatakan 24 jam mengurus buah hati. Ya kami sangat bersyukur pastinya. Akhirnya dibuat lah jadwal kalau Ayah ke kampus, saya bersama Malaika dan kalau Ibuk ke tempat course Ayah yang gantian menjaga Malaika. Saling memahami peran masing-masing suami dan istri bagi saya sangatlah penting. Sehingga semua bisa berjalan dengan baik dan semua happy. Insya Allah.

Metode English Course di York Campus.

Kelas Bahasa Inggris ini dibagi menjadi dua kelompok. Pengelompokan kelas berdasarkan hasil test yang kami kerjakan secara online. Satu kelas akan dibimbing oleh lima orang Trainees yang mana mereka merupakan student PhD/Master/undergraduate di University of York. Selama dua jam itu nantinya akan bergantian dua tau tiga orang Trainee yang menyampaikan materi kepada kami, masing-masingnya meng-handle proses belajar mengajar sekitar 40 menit sampai satu jam, tergantung jumlah trainee yang mengajar pada hari itu.

Setelah dua minggu berjalan Trainees yang tadinya mengajar pada kelompok sebelah akan bergantian mengajar dengan Trainees dari kelas kami, begitupun sebaliknya Trainees dari kelas kami akan pindah mengajar ke kelas sebelah. Total ada 10 orang Trainees dari berbagai negara yang membimbing kami selama proses belajar mengajar. Keuntunganya kami dapat mengenal berbagai macam aksen Bahasa Inggris dari berbagai negara dari masing-masing Trainees tersebut. Ada Joy dari Nigeria, Louis, Justina, dan John asli British, Phontip dari Thailand,  Angela dan San Ha dari Hongkong, Irina dari Rumania, juga Chang dan Junyi dari China.

Metode English course kami berupa penyampaian materi, interaksi tanya-jawab antara guru dengan peserta course, interaksi sesama peserta course, dan juga games menjadikan dua jam pelajaran terasa sebentar bagi kami. Semua proses tersebut menggunakan Bahasa Inggris. Dan yang tidak kalah penting setiap proses belajar kami didampingi oleh Teaching Staff yang akan mencatat, memantau, dan me-review pelajaran yang disampaikan masing-masing Trainee pada hari itu. Biasanya setelah kelas selesai dan para peserta course sudah tidak di kelas, Teaching Staff akan menyampaikan review pelajaran  kepada para Trainees mengenai materi yang mereka sampaikan pada hari itu. Hal ini pastinya membuat kualitas dari course yang York Campus selenggarakan dapat terus terjaga dan semakin meningkat.

IMG_3090
My Classmates and The Trainees (sayang bukan formasi lengkap)

Teman-Teman dari Berbagai Negara.

Bisa bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara tidak pernah terbayangkan dipikiran saya, diberi kesempatan tinggal di Inggris menemani suami saja tidak pernah ada dalam mimpi saya. Banyak pengalaman yang saya dapatkan. Dan saya sangat bersyukur. Yang semula saya takut bertemu orang-orang dan mungkin sesekali berpikiran bakal tidak mudah dan tidak mungkin menjalin pertemanan dengan orang beda negara, ternyata saya salah. Tidak ada yang tidak mungkin. Sampai-sampai saya didaulat sebagai “best friend” oleh kawan dari Italy. Hehe ada-ada saja.

Sebagai yang satu-satunya peserta course yang menggunakan Hijab tentunya saya, atas nasihat suami, memiliki misi khusus juga. Maksudnya, sebagai perwakilan dari Muslimah, kata suami, saya harus bisa membuktikan bagaimana Ïslam itu “yang sesungguhnya”. Walau masih jauh dari sempurna, setidaknya menjadi diri yang ramah tanpa memandang latar belakang teman-teman yang non-muslim mungkin itu sudah lebih dari cukup.

Banyak pertanyaan seputar  Hijab yang saya kenakan dari sahabat-sahabat saya itu. Ada yang bertanya “kapan diwajibkan berjilbab di negara kamu”. Saya selalu berusaha menjawab dengan sebaik mungkin agar mereka paham, saya katakan ini bukan tentang negara saya yang mewajibkan, Hijab ini merupakan identitas Muslimah dari umat Islam yang harus dilaksanakan dan salah satu fungsinya untuk melindungi si wanita tersebut. Alhamdulillah sejauh ini teman-teman saya di kelas sangat menghargai saya yang satu-satunya berhijab. Ada lagi yang bertanya tentang “mengapa ada yang bercadar?”, “mengapa mereka menggunakan pakaian serba hitam?”. Sampai ada yang bertanya “apakah kamu tidak kepanasan dengan Hijab yang kamu kenakan?”. Kebetulan saat itu sedang musim panas. Semua pertanyaan itu saya coba jawab hingga mereka paham.

Hingga pada akhirnya juga ada yang berminat ingin memesan Hijab yang saya kenakan, mungkin ingin ia pakai sebagai penghangat kepala di musim dingin. Ada Silvia, Ale, Fulvia, Claudia, Pedro dari Italy, Luchy, Hwa, Xiao You, Yong dari China, Phonam dan Rimpa dari India, Onnie Lee dan Onnie SungHe dari Korea, Mimi dari Jepang, dan masih banyak lagi kawan-kawan lainya. Rata-rata mereka adalah mahasiswa York, visiting schoolar, atau sekedar tiba di York untuk belajar Bahasa Inggris. Semoga dilain kesempatan kami bisa bertemu kembali.

Pesta Perpisahan.

IMG_3091Dihari terakhir course kami mengadakan farewell party alias pesta perpisahan yang berlokasi di kelas tempat kami biasa belajar. Kebetulan saya membawa si kecil Malaika untuk sekedar menyapa teman-teman sekelas Ibuknya. Para peserta course, trainees, dan teaching staff membawa makanan khas Negara kami masing-masing. Karena stok makanan di rumah adanya bahan-bahan untuk membuat Mie Goreng, akhirnya itu saja yang saya bawa pada acara tersebut. Pada hari itu kelas A dan B digabung jadi satu. Tidak ada lagi proses belajar mengajar yang ada acara makan-makan, poto-poto, canda tawa, bertukar nomor handphone atau facebook account, hingga moment sedih untuk berpisah dan perjanjian untuk saling bertemu suatu saat nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s