Pentingnya Ilmu Parenting!

Menilik pembahasan Bunda Elly Risman (link dapat dilihat disini) yang sedang ramai di share diberbagai media sosial, membuat aku ingin menuangkan beberapa perasaan melalui tulisan ini. Sebagai Ibu anak satu membuat aku benar-benar berharap anak-anak kami nantinya menjadi insan yang mulia di mata Allah SWT, anak-anak yang sholih dan sholihah hendaknya, terhindar dari segala macam penyakit semacam LGBT, pornografi, dan teman-temanya.

Anak-anak yang kita didik sebaik mungkin sedari kecil inilah yang nantinya doa-doa nya akan didengar oleh Allah SWT sewaktu kita telah meninggal dunia. Ya anak adalah investasi akhirat kita, Ayah Bunda!

Salah Pola Asuh. Seperti yang dijabarkan oleh Bunda Elly Risman di dalam video tersebut, bagaimana mengerikannya akibat dari salahnya pola asuh yang kita, yang mungkin saja Ayah dan Bunda lakukan selama ini. Yang mana sebenarnya solusinya sangatlah sederhana! yaitu kedua belah pihak yakni Ayah dan Bunda harus “turun tangan” dalam mengasuh buah hati tercinta. Dari sinilah membuat aku dan suami berusaha keras untuk bahu membahu mau meluangkan banyak waktu untuk “sekedar” bermain dengan anak, ya mendidik anak hasil buah cinta kita.

Percayalah, anak yang ceria itu adalah anak yang jiwanya bahagia karena selalu merasakan kehangatan dan kehadiran kedua orangtuanya disamping mereka. Tidak hanya cukup Bunda saja, Ayahpun memiliki andil yang besar terhadap kebahagiaan jiwa anak-anak kita yang masih labil. Sekedar memberi ciuman sayang, pelukan masa kita tidak bisa? Mengobrol santai tentang kegiatan buah hati kita sudah semestinya kita lakukan sedini mungkin, kalau perlu saat ia masih di dalam rahim ibunya, agar ia tahu akan keberadaan Ayah dan Ibu, ini membuat jiwa anak kita tenang.

Ayah dan Bunda sebagai teman curhat anak, ini yang sangat kita harapkan. Jangan sampai anak kita menjadi anak yang curhat kesana kesini, apalagi dengan lawan jenis yang bukan mahram nya, seperti anak kehilangan arah. Syukur-syukur curhat dengan kawan-kawan yang baik, bagaimana kalau sampai anak kita curhat kepada teman-teman yang lingkunganya buruk, menjerumuskan? na’udzubillah mindzalik. Salah pergaulaan sama dengan membantu terbukanya seks bebas, LGBT, narkoba, dan kawan-kawanya. Aku dan suami berdoa semoga anak-anak kami terhindar dari lingkungan yang buruk ini. Semoga juga dengan Ayah dan Bunda semua juga begitu.

Budaya di negara kita, kebanyakan pengasuhan anak itu hanya dibebankan kepada sang Ibu. Kalau anak sedikit saja buruk kelakuannya, langsung Ibu dari anak tersebut yang disalahkan. Tentu saja pangkal ujung tombak yang akan mengajarkan pendidikan pertama sekali kepada anak kita adalah Sang Ibu, ya.. Madrasah utama dari seorang anak adalah Ibunya. Sudah seharusnya seorang Ibu lebih banyak bersama anaknya, mungkin saja karena si Bapak bekerja. Namun kehadiran seorang Ayah, ternyata tidak kalah pentingnya dalam membentuk karakter dari seorang anak.

Bagi orangtua yang mungkin single parent bisa saja menghadirkan sosok Bapak terhadap anaknya melalui pamanya misalkan, atau Kakeknya. Agar si anak tetap merasakan kasih sayang dari seorang Bapak.

Tumbuh dan kembang masing-masing anak berbeda-beda. Ada anak yang bisa sukses berkarir di dunia kerja, misalkan, atau anak-anak yang berprestasi di sekolahnya. Kalau mau kita telaah, tentu hal tersebut adalah hasil dari pola didik Ayah dan Ibu nya sedari kecil. Kedisiplinan dan hal-hal baik yang dicontohkan oleh Ayah dan Ibunya. Sebuah keluarga yang broken home, Ayah ntah dimana Ibu dimana, anak HANYA tumbuh besar dengan hasil asuhan sang Asisten Rumah Tangga atau sang PRT yang digaji berjuta-juta. Kita hanya menyerahkan anak kita dengan pembantu rumah tangga.

Betapa mirisnya! kita tidak tahu apa latar belakang pendidikan dari sang PRT tersebut. Apakah kita yang terlalu sibuk dengan “dunia” kita sendiri tahu bagaimana cara si PRT mengasuh anak kita? Tiba-tiba anak kita sudah besar memiliki perangai yang buruk langsung saja menyalahkan si anak mengapa ia begini dan begitu pola tingkah lakuya, padahal mungkin saja waktu kecilnya kita lupa memberi waktu yang banyak untuk “sekedar” berkomunikasi dengan buah hati kita, mengajarkan pengalaman hidup kepadanya agar kelak ia menjadi insan yang lebih baik lagi hendaknya.

Anak adalah peniru ulung. Mari bersama kita upayakan mencontohkan yang baik-baik kepada anak-anak kita, inilah harapan besarku dan suami. Apabila kita ingin anak kita rajin bersedekah mari kita contohkan dari diri kita sendiri dulu untuk rajin memberi kepada sesama, percayalah anak akan melihat dan mencontoh perangai kita. Sudah banyak contohnya. Ingin anak rajin beribadah? bagaimana bisa wong kita saja untuk shalat wajib lima waktu sehari semalam dengan tepat waktu masih susah! Membiasakan yang baik-baik agar dicontoh oleh anak memang harus kita lakukan dengan sedini mungkin.

Masih banyak kebiasaan-kebiasaan baik lainya yang sudah sepatutnya kita beri contoh kepada anak-anak kita. Jangan sampai mereka berkata “loh, Bunda saja begini kok, masak aku harus begitu … gak adil!”. Kita memang tidak pernah tahu apa yang ada dipikiran buah hati kita. Yang aku, suami, dan kita harus lakukan adalah selalu praktikan hal-hal yang positif untuk ditiru oleh sang buah hati tercinta.

Kita ingin anak kita menjadi penghafal Alquran? Wong Ibu Bapaknya saja tidak pernah mengaji Qur’an, jangankan membaca, memegang mushaf Qur’an saja ntah kapan terakir kalinya. Ingin anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihah tidak cukup dengan do’a semata tanpa ada contoh nyata yang ditiru anak.

Baiknya “pantaskan” jualah diri kita sebagai orangtua yang shalih dan shalihah. Bukan orangtua yang banyak melarang anak ini dan itu sedangkan ia sendiri sibuk dengan hal-hal yang melalaikan dari menjadi pribadi yang sholih tesebut, misalkan banyak mendengarkan lagu-lagu yang melenakan daripada murotal Qur’an, menonton siaran televisi yang akibatnya hanya menggerus keimanan sehingga lupa untuk selalu menjadi insan Allah SWT yang bertaqwa. Apakah orangtua ini yang berharap anaknya menjadi anak shalih, khalifah Allah dimuka bumi? Miris.. setiap harinya hal ini yang musti aku pribadi dan suami perbaiki untuk kedepannya.

Peran Gadget yang Banyak Mendatangkan Mudorat daripada Manfaat. Sebagai orang yang dewasa, kita tidak boleh pungkiri bagaimana gadget membuat kita terlena terhadap banyaknya kewajiban. Membuat kita menunda-nunda sesuatu hal yang penting yang harus segera kita selesaikan. Ibu yang harus segera mengganti popok anaknya. Ayah yang harus cepat bersiap ke kantor. Anak-anak yang harus mengerjakan tugas sekolahnya. Semua ini terhambat hanya karena sebuah benda yaitu gadget.

Kita menyia-nyiakan waktu produktif kita. Ya, masyarakat modern sangat bergantung kepada Hape alias handphone, termasuk saya sendiri. Sebagaimana kita tahu bahwa dunia maya sangatlah rentan terhadap paparan pornografi dan pornoaksi. Na’udzubillah mindzalik. Semoga kita yang masih punya pikiran waras berpikir beribu-ribu kali, kalau perlu berjuta kali untuk memberikan anak balita kita gadget dengan cuma-cuma.

Kita tahu tinggal klik link yang tertera di layar hape langsung keluar berbagai macam situs. Bagaimana misalkan anak balita kita, atau anak gadis kita yang masih labil jiwanya, yang masih belum mampu mengendalikan emosinya, belum pandai memilah-milah sesuatu yang baik atau buruk, melihat hal-hal buruk tersebut?

Semua informasi sangat mudah didapat melalui smartphone. Kita, apalagi anak-anak sudah terlena dengan pornografi itu maka, rusaklah kehidupanya kedepanya. Dan benar sekali seperti yang dipaparkan bunda Elly risman dalam video youtube yang berdurasikan 32 Menit itu, kalau segala bentuk games anak-anakpun sudah terpapar pornografi. Mudah-mudahan aku, suami dan kita semua bisa menjadi orangtua bijak yang tidak dengan gampang memberi mainan gadget kepada anak-anak kita dengan alasan anak-anak tidak bisa diam, kalau ada gadget pasti anak langsung bisa tenang.

IMG_8787
Sumber Facebook
IMG_8788
Sumber Facebook

Pengalaman pribadi saya melihat negeri orang, bagaimana mereka tahu bahwa pentingnya anak-anak itu bermain diluar ruangan, membuat pemerintah disini membangun fasilitas cuma-cuma untuk taman bermain anak-anak. Ibaratnya tiap komplek ada taman bermain! Bukan taman bermain yang sudah rusak yang tidak terawat tapi, taman bermain yang nyaman untuk anak-anak bermain sepuas-puasnya.

image
Satu menit jalan dari rumah langsung kelihatan playground anak-anak
IMG_9669
Playground yang luas di belakang rumah kami
IMG_9670
Tidak perlu jauh-jauh mencari mainan seluncuran.

Do’a. Do’a adalah senjata orang beriman. Salah satu doa yang didengar oleh Allah SWT adalah doa orangtua, apalagi ibu. Segala macam upaya dalam pengasuhan anak telah kita lakukan dan sudah semestinya kita iringi dengan doa-doa yang diajarkan oleh Alquran dan Hadits. Tataplah buah hati kita dan doakanlah seperti yang diajarkan Allah di dalam Alqur’an: “Robbi Hablii Minash Shoolihiin…” Artinya: Ya Allah, Anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh. (QS: As-Shaffat: 100)

Doa Mohon diberi anak yang sholeh dan sholehah

Sebagaimana yang dirumuskan oleh imam Ali bin Abi Thalib r.a bahwa cara memperlakukan anak:

  1. Kelompok tujuh tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
  2. Kelompok tujuh tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
  3. Kelompok tujuh tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

Semoga aku dan suami yang masih fakir pengalaman dan ilmu ini mau terus berusaha untuk meng-upgrade diri menjadi orangtua yang “pantas” yang shalih sehingga mampu memberi contoh yang baik kepada anak-anak kami dan semangat terus mengajar dan mendidik hal-hal yang baik kepada buah hati kami, begitupun Ayah dan Bunda diluar sana! Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s